Tangerang, 9 September 2026 – Operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, dan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, kembali berjalan setelah sempat dihentikan sementara akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Pembukaan kembali dilakukan setelah evaluasi keselamatan memastikan kondisi fasilitas dan ruang udara memungkinkan aktivitas penerbangan dilanjutkan. Selain kedua bandara tersebut, Bandara Husein Sastranegara di Bandung juga kembali melayani penerbangan setelah mengalami gangguan serupa. Pemulihan dilakukan secara bertahap karena pengelola bandara dan maskapai masih harus menata kembali jadwal penerbangan yang terdampak penutupan sebelumnya. Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas selama proses normalisasi berlangsung.
Status operasional kembali diberikan berdasarkan Notice to Air Missions atau NOTAM setelah dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi bandara. Bandara Soekarno-Hatta memperoleh status resumed operations mulai 8 September sekitar pukul 00.30 WIB, kemudian Bandara Halim Perdanakusuma pada pukul 00.40 WIB dan Bandara Husein Sastranegara pada pukul 00.42 WIB. Pemerintah sebelumnya menyatakan operasional sejumlah bandara secara umum dapat kembali dimulai sejak Selasa dini hari setelah kondisi dinilai aman. Bandara Budiarto di Curug dan Bandara Pondok Cabe juga menyusul kembali dibuka sekitar pukul 02.25 WIB. Pembukaan tersebut menjadi tahap penting dalam memulihkan konektivitas penerbangan yang sempat terganggu akibat aktivitas vulkanik.
Sebelum penerbangan kembali dilayani, pengelola melakukan serangkaian prosedur untuk memastikan fasilitas bandara memenuhi standar keselamatan. Pembersihan abu vulkanik dilakukan di seluruh area sisi udara, termasuk apron, taxiway, dan landasan pacu yang menjadi bagian penting dalam pergerakan pesawat. Pengelola juga melakukan pengujian tingkat kekesatan landasan untuk memastikan permukaan memenuhi persyaratan operasional setelah terpapar material vulkanik. Fasilitas sisi darat turut dipersiapkan untuk menghadapi peningkatan aktivitas penumpang setelah penerbangan kembali dibuka. Seluruh personel operasi dan pelayanan juga disiagakan agar proses pemulihan dapat berjalan dengan aman dan terkoordinasi.
Di Bandara Soekarno-Hatta, pemulihan penerbangan dilakukan secara bertahap melalui penerapan Air Traffic Flow Management atau ATFM. Mekanisme tersebut digunakan untuk mengendalikan arus keberangkatan dan kedatangan pesawat sehingga peningkatan aktivitas setelah pembukaan bandara tidak berlangsung secara bersamaan dalam jumlah berlebihan. Pengaturan juga diperlukan untuk mempercepat keberangkatan pesawat yang sebelumnya tertahan sekaligus mengembalikan kapasitas apron secara bertahap. Dengan banyaknya jadwal yang mengalami perubahan selama penutupan, proses normalisasi diperkirakan membutuhkan waktu sebelum seluruh penerbangan kembali mengikuti jadwal reguler. Karena itu, pembukaan bandara tidak serta-merta membuat seluruh dampak gangguan penerbangan sebelumnya langsung selesai.
Gangguan akibat abu vulkanik Anak Krakatau sebelumnya memberikan dampak cukup besar terhadap transportasi udara nasional. Sekitar 2.961 penerbangan mengalami pembatalan, penundaan maupun pengalihan selama periode gangguan, dengan jumlah penumpang terdampak mencapai sekitar 341 ribu orang. Pada Minggu saja, lebih dari 1.500 penerbangan dan sekitar 170 ribu penumpang terdampak setelah sejumlah bandara menghentikan sementara operasionalnya. Bandara Soekarno-Hatta menjadi salah satu titik yang mengalami dampak terbesar karena merupakan pusat penerbangan domestik dan internasional utama Indonesia. Gangguan pada satu pesawat juga dapat berlanjut ke beberapa penerbangan berikutnya karena armada yang sama biasanya digunakan untuk melayani sejumlah rute dalam satu hari.
Pemerintah juga meminta pengelola bandara dan maskapai melakukan pemeriksaan terhadap armada sebelum pesawat kembali diterbangkan. Langkah tersebut diperlukan karena abu vulkanik dapat menimbulkan risiko serius apabila masuk ke mesin maupun komponen penting pesawat. Pilot dan kru penerbangan diwajibkan mengetahui wilayah udara terbatas atau restricted polygon yang ditetapkan di sekitar area terdampak sebaran abu. Dengan demikian, pembukaan kembali bandara tetap disertai pembatasan dan prosedur mitigasi untuk menghindari jalur yang masih memiliki potensi bahaya. Koordinasi antara otoritas bandara, maskapai, pengatur lalu lintas udara dan instansi pemantauan vulkanologi terus dilakukan selama aktivitas Anak Krakatau masih berlangsung.
Aktivitas penerbangan di Halim Perdanakusuma juga mulai kembali normal setelah sempat terhenti selama sekitar dua hari. TNI Angkatan Udara memastikan pesawat yang beroperasi dari kawasan tersebut dapat kembali menjalankan berbagai misi setelah kondisi dinyatakan aman. Penutupan sebelumnya dilakukan karena abu vulkanik dinilai berpotensi masuk ke mesin pesawat dan mengganggu kinerja maupun keselamatan penerbangan. Kembalinya operasional Halim turut mendukung pemulihan penerbangan komersial serta berbagai kegiatan strategis yang menggunakan pangkalan tersebut. Salah satu kegiatan yang sebelumnya dilakukan dari Halim adalah distribusi logistik menggunakan pesawat angkut untuk mendukung penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur.
Meski sebagian besar bandara terdampak telah kembali dibuka, pemantauan terhadap aktivitas Anak Krakatau tetap dilakukan secara intensif. Gunung tersebut masih aktif dan erupsi lanjutan berpotensi kembali memengaruhi penerbangan apabila arah angin membawa abu menuju jalur maupun fasilitas bandara. Pada Selasa tercatat beberapa erupsi dengan skala lebih kecil sehingga kondisi ruang udara tetap harus dievaluasi secara berkala. Otoritas penerbangan dapat melakukan penyesuaian apabila sebaran abu kembali terdeteksi pada ketinggian yang berisiko bagi pesawat. Situasi tersebut membuat maskapai dan pengelola bandara tetap menjalankan prosedur mitigasi meskipun layanan penerbangan telah dipulihkan.
Calon penumpang tetap diimbau memeriksa status penerbangan masing-masing sebelum berangkat menuju bandara karena penyesuaian jadwal masih mungkin terjadi selama fase pemulihan. Pengelola Soekarno-Hatta juga telah berkoordinasi dengan operator transportasi publik untuk memastikan ketersediaan angkutan dari dan menuju kawasan bandara seiring meningkatnya kembali mobilitas penumpang. Pemulihan operasional di Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara dan sejumlah bandara lainnya menjadi langkah penting untuk mengurai penumpukan perjalanan setelah gangguan selama beberapa hari. Namun, proses tersebut tetap dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan armada, kapasitas bandara serta perkembangan sebaran abu vulkanik. Pemerintah menegaskan operasional penerbangan hanya akan dipertahankan selama kondisi keselamatan tetap memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.





