Jakarta, 10 September 2026 – Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah dan seluruh pihak terkait memberikan pendampingan kepada keluarga lima jurnalis, pemandu, serta dua kru kapal yang masih dalam pencarian setelah hilang kontak di perairan Selat Sunda. Selain memaksimalkan operasi SAR, perhatian terhadap kondisi psikologis keluarga dinilai penting karena mereka telah menunggu selama beberapa hari tanpa kepastian mengenai keberadaan anggota keluarganya. Situasi tersebut dapat menimbulkan tekanan emosional yang berat, terutama ketika berbagai informasi mengenai pencarian berkembang dengan cepat. Puan menyampaikan simpati kepada keluarga dan berharap seluruh anggota rombongan dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat. Pemerintah juga diminta memastikan keluarga memperoleh informasi yang jelas, berkala, dan terverifikasi mengenai perkembangan operasi. Dukungan tersebut diperlukan agar keluarga tidak menghadapi masa penantian panjang seorang diri.
Rombongan yang dicari terdiri atas lima jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudistiro Pranoto, Firman Daus, dan Donal Husni. Mereka melakukan perjalanan bersama seorang pemandu dan dua kru speedboat untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kapal berangkat dari Dermaga Pagedongan di kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Salah seorang anggota rombongan masih sempat mengirimkan informasi mengenai posisi mereka sekitar pukul 14.42 WIB. Komunikasi kemudian dilaporkan terputus sekitar pukul 15.04 WIB ketika rombongan berada di perairan Selat Sunda. Sejak mereka tidak kembali sesuai perkiraan waktu perjalanan, operasi pencarian kemudian dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur.
Puan meminta seluruh kemampuan yang tersedia digunakan untuk memperbesar peluang menemukan rombongan. Pencarian tidak hanya melibatkan Basarnas, tetapi juga diperkuat TNI Angkatan Laut, Polri, pemerintah daerah, serta berbagai unsur pendukung lainnya. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga memberikan instruksi agar TNI AL membantu secara maksimal dalam operasi tersebut. Dukungan armada laut dinilai penting karena wilayah pencarian cukup luas dan memiliki karakter perairan yang membutuhkan banyak kapal untuk melakukan penyisiran secara bersamaan. Tim SAR terus mengevaluasi lokasi terakhir, kondisi arus, arah angin, serta berbagai informasi yang diperoleh dari keluarga dan pihak terkait. Setiap petunjuk yang ditemukan di laut juga diperiksa untuk menentukan apakah memiliki keterkaitan dengan speedboat yang hilang.
Perhatian terhadap keluarga semakin penting karena mereka telah berada dalam kondisi penuh ketidakpastian sejak kabar hilang kontak pertama kali diterima. Sejumlah anggota keluarga bahkan mendatangi posko SAR di Carita untuk menunggu perkembangan langsung dari petugas. Mereka berharap pencarian dapat menghasilkan kabar baik dan seluruh anggota rombongan ditemukan selamat. Dalam kondisi seperti ini, informasi yang tidak terverifikasi dapat memperbesar tekanan psikologis keluarga sehingga komunikasi resmi harus dilakukan secara hati-hati. Pemerintah dan tim pencarian perlu menunjuk saluran informasi yang mudah diakses keluarga agar mereka tidak harus mencari perkembangan melalui berbagai kabar yang belum tentu benar. Pendampingan psikologis juga dapat diberikan apabila diperlukan untuk membantu keluarga menghadapi kecemasan selama proses pencarian berlangsung.
Permintaan agar keluarga mendapatkan pendampingan juga disuarakan anggota Komisi I DPR RI Junico Siahaan. Ia menilai keluarga membutuhkan lebih dari sekadar pembaruan mengenai lokasi yang telah disisir oleh tim SAR. Dukungan psikologis, kemudahan berkoordinasi dengan instansi pemerintah, serta bantuan selama proses pencarian menjadi bagian penting dari penanganan situasi tersebut. Pemerintah juga didorong menunjuk penghubung resmi yang secara khusus berkomunikasi dengan keluarga. Dengan mekanisme itu, informasi mengenai wilayah pencarian, kendala di lapangan, petunjuk terbaru, dan rencana operasi berikutnya dapat disampaikan secara rutin. Perusahaan tempat para jurnalis bekerja juga diharapkan terlibat dalam memberikan dukungan kepada pekerja dan keluarga masing-masing.
Operasi SAR pada Kamis terus diperkuat dengan penambahan kapal dan personel dari berbagai wilayah. Tim dari Lampung mengerahkan KN SAR Basudewa untuk menyisir kawasan Pulau Sebesi hingga perairan Gunung Anak Krakatau. Sebelumnya, pencarian telah menggunakan KN SAR Tetuka, KAL Anyer, kapal kepolisian, sejumlah KRI, serta perahu cepat dari Banten dan Lampung. Area penyisiran dibagi ke beberapa sektor agar pencarian dapat dilakukan secara lebih sistematis. Pulau Rakata, Pulau Panjang, Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, serta perairan sekitar kompleks Krakatau menjadi bagian dari kawasan yang diperiksa. Pemantauan visual dilakukan sepanjang jalur pencarian untuk menemukan kapal, manusia, perlengkapan keselamatan, maupun benda lain yang mungkin berkaitan dengan rombongan.
Kondisi perairan Selat Sunda membuat operasi membutuhkan perhitungan yang terus diperbarui. Arus laut dapat menggeser posisi kapal atau benda terapung cukup jauh dari lokasi terakhir dalam beberapa hari. Tim SAR karena itu menggunakan perencanaan pencarian dengan memperhitungkan arus, angin, gelombang, waktu terakhir komunikasi, serta kemungkinan jalur perjalanan speedboat. Penggunaan drone termal dan berbagai perangkat komunikasi turut mendukung operasi di lapangan. Namun, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga harus diperhatikan karena material vulkanik masih terpantau keluar dari kawasan gunung. Keselamatan personel pencarian tetap menjadi pertimbangan ketika operasi mendekati wilayah yang memiliki pembatasan akibat aktivitas vulkanik.
Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyebarkan informasi spekulatif mengenai kondisi rombongan. Kabar yang belum terverifikasi mengenai ditemukannya kapal, barang tertentu, maupun kondisi orang yang dicari dapat memberikan dampak besar terhadap keluarga. Setiap informasi sebaiknya menunggu konfirmasi dari otoritas pencarian sebelum disebarluaskan. Penguatan jaringan telekomunikasi di sekitar wilayah operasi juga dilakukan untuk membantu koordinasi antartim dan memperlancar penyampaian informasi. Langkah tersebut menjadi penting karena sebagian kawasan Selat Sunda memiliki keterbatasan jaringan komunikasi. Di tengah operasi yang melibatkan banyak unsur, arus informasi yang terpusat dapat mengurangi kemungkinan munculnya kabar yang saling bertentangan.
Di sisi lain, kepolisian telah menyiapkan pos antemortem dan meminta keluarga memberikan data yang dibutuhkan untuk kepentingan identifikasi sebagai bagian dari prosedur kesiapsiagaan. Langkah tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai kesimpulan mengenai kondisi orang-orang yang masih dicari karena operasi SAR tetap berfokus menemukan mereka. Prosedur tersebut merupakan bagian dari persiapan standar agar petugas memiliki data yang diperlukan dalam berbagai kemungkinan perkembangan operasi. Situasi seperti ini dapat menjadi sangat berat bagi keluarga sehingga setiap tahapan harus dijelaskan dengan bahasa yang jelas dan penuh empati. Pendamping psikologis dapat membantu keluarga memahami prosedur sekaligus mengelola tekanan emosional yang muncul selama masa penantian. Koordinasi antara petugas SAR, kepolisian, pemerintah, perusahaan media, dan keluarga karena itu menjadi semakin penting.
Puan berharap pencarian lima jurnalis bersama pemandu dan dua kru speedboat terus dilakukan secara maksimal dengan mengerahkan sumber daya yang diperlukan. Pada saat bersamaan, keluarga yang menunggu di darat harus mendapatkan perhatian yang memadai, baik melalui informasi berkala maupun dukungan psikologis selama operasi berlangsung. Penantian tanpa kepastian selama beberapa hari dapat memberikan tekanan besar sehingga pendekatan kemanusiaan perlu berjalan beriringan dengan operasi pencarian di laut. Pemerintah, tim SAR, perusahaan media, dan pihak terkait diharapkan menjaga komunikasi agar keluarga selalu mengetahui perkembangan berdasarkan informasi yang telah diverifikasi. Masyarakat juga diminta memberikan ruang kepada keluarga dan tidak memperbesar kecemasan dengan menyebarkan spekulasi mengenai nasib rombongan. Seluruh upaya kini tetap diarahkan pada satu tujuan utama, yakni menemukan delapan orang yang hilang di Selat Sunda dan membawa mereka kembali kepada keluarga dalam keadaan selamat.





