Bandung, 25 Agustus 2026 – Leny, perempuan berusia 42 tahun yang kini menjalani masa pidana di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat, memilih memanfaatkan kemampuannya untuk membantu warga binaan lainnya. Perempuan yang pernah tinggal selama 28 tahun di China tersebut kini menjadi pengajar bahasa Mandarin bagi sesama narapidana. Sebelum menjalani masa pidana, Leny diketahui pernah bekerja sebagai dosen di salah satu universitas di Beijing. Pengalaman dan kemampuan bahasa Mandarin yang dimilikinya kemudian ia manfaatkan untuk membuka kelas bahasa Mandarin di lingkungan lapas.
Leny telah hampir dua tahun menjalani masa pidana di Lapas Perempuan Bandung. Selama berada di dalam lapas, ia tidak ingin hanya menjalani hari-hari dengan mengikuti rutinitas sebagai warga binaan. Ia memilih mencari kegiatan yang dapat memberikan manfaat bagi dirinya sekaligus orang lain. Dari situlah muncul gagasan untuk membuka kelas bahasa Mandarin bagi penghuni lapas lainnya yang tertarik mempelajari bahasa tersebut.
Kelas bahasa Mandarin yang dipelopori Leny mulai berjalan pada 2025. Pada awal pembukaan, terdapat sekitar 12 warga binaan yang tertarik mengikuti pembelajaran. Jumlah tersebut kemudian menjadi awal dari kegiatan belajar yang dilakukan secara rutin di lingkungan lapas. Leny berusaha membuat suasana belajar tidak terlalu formal agar para peserta merasa nyaman dan tidak menganggap pelajaran bahasa sebagai sesuatu yang sulit.
Metode pembelajaran yang diterapkan Leny lebih banyak berfokus pada percakapan sehari-hari. Ia tidak menjadikan kemampuan menulis huruf Mandarin atau menguasai tata bahasa sebagai syarat utama bagi peserta untuk mengikuti kelas. Menurutnya, kemampuan berkomunikasi secara sederhana jauh lebih mudah digunakan oleh pemula. Peserta diajak mengenal kosakata dan kalimat yang dapat langsung dipakai dalam percakapan sehari-hari.
Leny juga menggunakan sistem penulisan pinyin untuk membantu peserta yang belum terbiasa dengan huruf Mandarin. Ia tetap memperkenalkan karakter Hanzi, tetapi peserta tidak diwajibkan langsung menguasai seluruh bentuk tulisan tersebut. Dengan metode itu, peserta dapat terlebih dahulu memahami cara pengucapan sebuah kata sebelum secara bertahap mengenal bentuk tulisannya. Pendekatan tersebut membuat proses pembelajaran terasa lebih ringan.
Suasana kelas juga dibuat lebih santai. Leny tidak ingin kegiatan tersebut terasa seperti pembelajaran formal di ruang kuliah. Ia lebih banyak menggunakan permainan, percakapan, dan latihan sederhana agar para peserta dapat belajar sambil bersenang-senang. Menurutnya, suasana yang menyenangkan akan membuat peserta lebih mudah mengingat kosakata dan tidak cepat merasa bosan.
Pengalaman Leny sebagai dosen menjadi modal penting dalam menjalankan kegiatan tersebut. Selama bertahun-tahun tinggal di China, ia terbiasa menggunakan bahasa Mandarin dalam kehidupan sehari-hari sekaligus memiliki pengalaman di lingkungan akademik. Pengetahuan tersebut kini diterapkan dalam bentuk pembelajaran sederhana yang disesuaikan dengan kondisi warga binaan. Ia tidak hanya mengajarkan bahasa, tetapi juga membagikan pengalaman mengenai kehidupan dan budaya di China.
Kegiatan belajar Mandarin tersebut menjadi salah satu bentuk pembinaan yang dapat memberikan aktivitas positif bagi warga binaan. Lapas tidak hanya menjadi tempat menjalani masa pidana, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan dan memperbaiki diri. Warga binaan yang mengikuti kelas memperoleh kesempatan mempelajari keterampilan baru yang dapat bermanfaat setelah mereka kembali ke masyarakat.
Bagi sebagian peserta, mempelajari bahasa asing juga memberikan pengalaman yang berbeda dari kegiatan sehari-hari di dalam lapas. Mereka dapat mengisi waktu dengan kegiatan yang bersifat edukatif sekaligus membangun interaksi positif dengan warga binaan lainnya. Proses belajar bersama juga dapat mempererat hubungan antarpeserta karena mereka saling membantu ketika menemukan kosakata atau pelafalan yang belum dipahami.
Leny sendiri melihat masa menjalani pidana sebagai kesempatan untuk terus belajar dan memberikan sesuatu kepada orang lain. Ia tidak ingin kemampuan yang dimilikinya berhenti hanya karena dirinya sedang berada di dalam lapas. Sebaliknya, ia berusaha menggunakan pengetahuan tersebut untuk membantu orang lain mendapatkan keterampilan baru. Baginya, kegiatan mengajar juga memberikan kesibukan yang membuat hari-hari di dalam lapas lebih bermakna.
Kisah Leny memperlihatkan bahwa latar belakang seseorang sebelum masuk lapas tetap dapat menjadi modal untuk melakukan kegiatan positif selama menjalani pembinaan. Pengalaman sebagai dosen dan kemampuan bahasa Mandarin yang dimilikinya tidak hilang begitu saja. Kemampuan tersebut justru dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran warga binaan lain. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa program pembinaan dapat dikembangkan dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki masing-masing penghuni lapas.
Kegiatan tersebut juga memberikan gambaran mengenai pentingnya pembinaan berbasis keterampilan di lingkungan pemasyarakatan. Setiap warga binaan memiliki pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan yang berbeda. Jika potensi tersebut dapat diidentifikasi dan dikembangkan, mereka dapat berkontribusi dalam kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Warga binaan yang memiliki keahlian tertentu bahkan dapat menjadi pengajar atau pendamping bagi warga binaan lainnya.
Bahasa Mandarin sendiri memiliki manfaat yang cukup luas dalam kehidupan setelah seseorang kembali ke masyarakat. Kemampuan berbahasa asing dapat menjadi tambahan keterampilan yang digunakan dalam dunia kerja maupun kegiatan usaha. Peserta kelas mungkin belum mengetahui bagaimana keterampilan tersebut akan mereka gunakan di masa depan, tetapi kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing dapat menjadi nilai tambah. Karena itu, kegiatan yang dilakukan Leny tidak hanya memberikan aktivitas selama berada di lapas, tetapi berpotensi menjadi bekal bagi peserta ketika mereka telah selesai menjalani masa pidana.
Pembelajaran juga tidak terbatas pada hafalan kosakata. Leny memperkenalkan bahasa melalui percakapan sehingga peserta dapat memahami konteks penggunaannya. Mereka dapat belajar bagaimana menyapa, memperkenalkan diri, bertanya, maupun merespons percakapan sederhana. Pola seperti itu membuat peserta lebih mudah melihat hubungan antara materi yang dipelajari dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Keberadaan kelas tersebut juga menunjukkan bahwa proses pembinaan dapat berasal dari inisiatif warga binaan sendiri. Leny tidak menunggu seluruh kegiatan disediakan oleh pihak lapas, tetapi berinisiatif menawarkan kemampuan yang dimilikinya. Pihak lapas kemudian menjadi ruang bagi kegiatan tersebut untuk berkembang. Kolaborasi seperti ini dapat menciptakan berbagai kegiatan pembinaan lain apabila warga binaan diberi kesempatan untuk berbagi keahlian masing-masing.
Bagi Leny, mengajar sesama warga binaan juga menjadi bentuk kontribusi yang dapat ia lakukan selama berada di balik jeruji. Masa pidana tidak membuatnya berhenti menggunakan pengalaman yang telah diperoleh selama puluhan tahun tinggal di China. Ia justru mengubah pengalaman tersebut menjadi pengetahuan yang dapat dibagikan. Dari seorang dosen yang pernah mengajar di Beijing, kini ia menjalankan peran sebagai guru Mandarin bagi sesama warga binaan di Bandung.
Kisah tersebut menjadi salah satu contoh bahwa lingkungan pemasyarakatan dapat menjadi tempat untuk membangun kemampuan baru dan memperbaiki diri. Warga binaan tidak harus kehilangan kesempatan untuk belajar hanya karena sedang menjalani hukuman. Dengan adanya ruang untuk berbagi pengetahuan, mereka dapat saling membantu dan menciptakan lingkungan yang lebih produktif. Kelas Mandarin yang dibuka Leny menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat tersebut.
Leny kini terus menjalankan kegiatan mengajarnya di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung. Ia berharap para peserta tidak hanya mendapatkan kemampuan berbahasa Mandarin, tetapi juga menikmati proses belajar dan memiliki motivasi untuk terus mengembangkan diri. Dari pengalaman panjang sebagai dosen dan kehidupan selama puluhan tahun di China, Leny kini membagikan pengetahuannya kepada orang-orang yang berada dalam situasi serupa dengannya. Di balik keterbatasan lingkungan lapas, ia memilih menjadikan kemampuannya sebagai jalan untuk belajar, mengajar, dan memberikan manfaat bagi sesama.






