Jakarta, 13 Agustus 2026 – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk terus memperkuat dukungan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga 31 Juli 2026, Bank Mandiri telah menyalurkan KUR sebesar Rp25,63 triliun kepada sekitar 170 ribu debitur di berbagai wilayah Indonesia. Penyaluran tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan dalam memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha yang membutuhkan modal untuk mengembangkan bisnis. KUR juga diarahkan untuk membantu UMKM meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar, serta memperkuat kemampuan usaha agar dapat berkembang secara berkelanjutan. Dengan dukungan pembiayaan yang semakin luas, UMKM diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga naik kelas dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.
Penyaluran KUR tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan pembiayaan dari sektor UMKM. Banyak pelaku usaha memiliki potensi untuk berkembang, tetapi menghadapi kendala modal ketika ingin meningkatkan kapasitas bisnis. Keterbatasan akses terhadap pembiayaan formal dapat membuat pelaku usaha sulit membeli peralatan, menambah persediaan, memperluas tempat usaha, atau meningkatkan jumlah tenaga kerja. Kehadiran KUR memberikan alternatif pembiayaan dengan skema yang dirancang untuk membantu pelaku UMKM memperoleh modal sesuai kebutuhan. Bank Mandiri juga terus mendorong agar pembiayaan tidak hanya diberikan untuk kegiatan konsumtif, tetapi digunakan untuk aktivitas produktif yang dapat meningkatkan kemampuan usaha.
Dukungan terhadap UMKM juga tidak berhenti pada pemberian kredit. Pelaku usaha membutuhkan pendampingan agar mampu mengelola pembiayaan secara sehat dan meningkatkan kualitas bisnisnya. Kemampuan mengatur arus kas, menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, mengelola persediaan, hingga menyusun strategi pemasaran menjadi faktor penting dalam keberlanjutan usaha. Tanpa pengelolaan yang baik, tambahan modal tidak selalu menghasilkan peningkatan kinerja bisnis. Karena itu, penguatan kapasitas pelaku UMKM perlu berjalan beriringan dengan perluasan akses pembiayaan.
Digitalisasi menjadi salah satu aspek yang semakin penting dalam proses UMKM naik kelas. Pemanfaatan platform digital dapat membantu pelaku usaha memperluas jangkauan pemasaran hingga ke luar wilayah operasionalnya. Pembayaran digital juga dapat membuat transaksi lebih mudah sekaligus membantu pelaku usaha memiliki catatan transaksi yang lebih terstruktur. Data transaksi tersebut pada akhirnya dapat mendukung pengelolaan keuangan dan menjadi bagian dari rekam jejak usaha. Semakin banyak UMKM yang mampu memanfaatkan teknologi, semakin besar pula peluang mereka meningkatkan efisiensi dan menjangkau konsumen baru.
Penyaluran KUR ke berbagai sektor usaha juga dapat memberikan dampak terhadap perekonomian daerah. UMKM yang memperoleh pembiayaan dapat meningkatkan produksi dan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja ketika bisnis berkembang. Aktivitas tersebut kemudian menciptakan perputaran ekonomi di lingkungan sekitar, mulai dari pemasok bahan baku, pekerja, jasa distribusi, hingga konsumen. Dengan demikian, pembiayaan UMKM memiliki efek yang lebih luas dibandingkan sekadar hubungan antara bank dan debitur. Pertumbuhan usaha kecil yang sehat dapat menjadi salah satu fondasi penguatan ekonomi masyarakat di berbagai daerah.
Bank juga perlu memastikan penyaluran pembiayaan dilakukan secara tepat sasaran dan mempertimbangkan kemampuan pelaku usaha dalam memenuhi kewajiban kredit. Prinsip kehati-hatian menjadi penting agar ekspansi KUR tidak justru meningkatkan risiko kredit bermasalah. Penilaian terhadap kondisi usaha, kemampuan pembayaran, serta prospek bisnis tetap diperlukan dalam proses pemberian pembiayaan. Bagi pelaku UMKM, penggunaan dana secara produktif juga menjadi kunci agar cicilan dapat dibayar dari hasil perkembangan usaha. Hubungan pembiayaan yang sehat akan memberikan manfaat bagi bank sekaligus membantu debitur membangun bisnis dalam jangka panjang.
Upaya mendorong UMKM naik kelas juga perlu didukung oleh ekosistem yang lebih luas. Pemerintah, perbankan, pelaku usaha, platform digital, lembaga pendamping, serta berbagai pihak terkait perlu menciptakan lingkungan yang memudahkan UMKM berkembang. Akses terhadap pasar dan bahan baku sama pentingnya dengan akses terhadap modal. Pelaku usaha juga membutuhkan kepastian usaha dan kemudahan dalam berbagai proses administratif agar dapat lebih fokus mengembangkan bisnis. Ketika berbagai faktor tersebut berjalan bersama, pembiayaan yang diterima UMKM memiliki peluang lebih besar menghasilkan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.
Penyaluran KUR Bank Mandiri yang mencapai Rp25,63 triliun kepada sekitar 170 ribu debitur hingga akhir Juli 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor UMKM sebagai salah satu penggerak ekonomi nasional. Tantangan berikutnya bukan hanya memperluas jumlah penerima pembiayaan, tetapi memastikan modal tersebut benar-benar mampu meningkatkan kapasitas dan produktivitas usaha. Pendampingan, digitalisasi, akses pasar, serta pengelolaan keuangan yang baik menjadi faktor penting agar UMKM dapat berkembang dari usaha kecil menjadi bisnis yang lebih kuat. Dengan pembiayaan yang tepat sasaran dan ekosistem usaha yang mendukung, semakin banyak pelaku UMKM diharapkan mampu meningkatkan skala bisnis, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.






