Banjarmasin, 18 September 2026 – Kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Selatan tidak hanya menimbulkan persoalan asap, tetapi juga memberikan tekanan serius terhadap habitat bekantan. Satwa endemik Kalimantan tersebut sangat bergantung pada vegetasi tepian sungai dan kawasan lahan basah sebagai tempat mencari makan, berlindung, beristirahat, serta berpindah. Kebakaran dapat merusak tutupan pohon sekaligus mengurangi ketersediaan sumber pakan alami dalam waktu relatif panjang. Dampak terhadap habitat juga tidak langsung berakhir setelah api berhasil dipadamkan karena vegetasi membutuhkan waktu untuk pulih. Kondisi tersebut membuat pemantauan terhadap kelompok bekantan di kawasan terdampak menjadi semakin penting. Upaya konservasi pun perlu berjalan bersamaan dengan penanganan dan pencegahan karhutla.
Perhatian terhadap kondisi bekantan meningkat setelah 12 individu ditemukan mati akibat kebakaran lahan di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tim penyelamat satwa yang melakukan pemeriksaan lapangan memastikan satwa tersebut terdampak langsung oleh kebakaran yang menjalar ke habitatnya. Selain bekantan, satu ular piton dan satu king kobra juga ditemukan mati di kawasan tersebut. Petugas kemudian menemukan 32 bekantan dari kelompok yang sama masih hidup di sisi lain lokasi kebakaran. Keberadaan kelompok yang selamat terus dipantau untuk memastikan kondisi kesehatan serta ketersediaan habitat yang masih dapat digunakan. Translokasi dapat dipertimbangkan apabila hasil kajian menunjukkan kawasan tersebut tidak lagi mampu mendukung kehidupan satwa secara memadai.
Ancaman karhutla terhadap bekantan tidak terbatas pada kontak langsung dengan kobaran api. Asap dapat menurunkan kualitas udara dan berpotensi mengganggu sistem pernapasan satwa, sementara rusaknya vegetasi dapat mengubah pola makan dan pergerakan kelompok. Bekantan yang kehilangan sumber pakan juga berpotensi berpindah menuju kawasan lain yang kualitas habitatnya belum tentu memadai. Perpindahan tersebut dapat membawa satwa semakin dekat dengan aktivitas manusia sehingga meningkatkan potensi gangguan maupun konflik. Karena itu, perubahan perilaku bekantan setelah kebakaran perlu dipantau melalui pengamatan lapangan. Penilaian terhadap dampak kesehatan juga membutuhkan pemeriksaan langsung agar kondisi setiap kelompok dapat diketahui secara akurat.
Data tahun 2025 mencatat populasi bekantan di Kalimantan Selatan sebanyak 3.757 individu yang tersebar di 11 kabupaten dan kota. Sebanyak 1.281 individu tercatat hidup di 12 kawasan konservasi, sedangkan sebagian besar lainnya berada di luar kawasan konservasi seperti hutan produksi, hutan lindung dan Areal Penggunaan Lain. Kondisi tersebut membuat perlindungan habitat di luar kawasan konservasi memiliki peranan besar terhadap keberlangsungan populasi bekantan. Habitat di Desa Balimau sendiri berada di kawasan penggunaan lain yang terdiri atas tanah desa dan lahan milik masyarakat. Kawasan tersebut juga telah terfragmentasi oleh jalan sehingga ruang jelajah satwa tidak berada dalam satu bentang alam yang sepenuhnya tersambung. Kebakaran semakin menambah tekanan terhadap habitat yang sebelumnya telah menghadapi fragmentasi.
Tekanan terhadap satwa berlangsung di tengah tingginya kejadian karhutla di Kalimantan Selatan sepanjang 2026. Hingga 14 September, tercatat sekitar 3.220 kejadian kebakaran dengan perkiraan luas lahan terdampak mencapai 21.414,43 hektare. Hulu Sungai Selatan termasuk wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, mencapai sekitar 3.786,71 hektare. Kondisi tersebut menunjukkan pengendalian karhutla tidak hanya berkaitan dengan perlindungan permukiman dan kualitas udara, tetapi juga keberlangsungan keanekaragaman hayati. Pencegahan kebakaran di kawasan yang menjadi ruang hidup satwa perlu mendapatkan perhatian lebih besar. Pengawasan terhadap daerah rawan serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kejadian serupa.
Pemulihan habitat kini menjadi salah satu pekerjaan penting setelah kebakaran dapat dikendalikan. Kondisi vegetasi, ketersediaan pakan alami, kualitas habitat serta keberadaan kelompok bekantan perlu dipantau secara berkala untuk menentukan langkah konservasi berikutnya. Upaya memperluas areal preservasi juga didorong untuk memberikan perlindungan lebih kuat terhadap habitat bekantan yang berada di luar kawasan konservasi. Pendekatan tersebut penting karena sebagian besar populasi bekantan Kalimantan Selatan hidup di kawasan yang tidak berstatus kawasan konservasi. Pencegahan karhutla, pemulihan vegetasi dan perlindungan koridor pergerakan satwa perlu dilakukan secara berkelanjutan agar habitat tetap mampu menopang kehidupan bekantan. Penanganan karhutla dengan demikian tidak berhenti pada pemadaman api, tetapi juga mencakup pemulihan ekosistem yang terdampak.








